Tidak mudah membangun kesadaran, bahwa didunia bisnis sekalipun, gairah untuk sukses melahirkan persaingan, peningkatan performa, penguatan pelayanan. Tapi serakah dan rakus melahirkan pengkhianatan profesi, pembunuhan potensi ekonomi, monopoli dan juga menyuburkan mentalitas meraup kekayaan dengan cara-cara kejam.
Sama halnya ketika seorang menjadi karyawan,misalnya dengan kedudukan sebagai marketing. Kesepakatan diawal bahwa ketika seorang marketing mencapai target penjualan yang telah ditentukan atau lebih maka akan dapat kompensasi yang lebih dari perusahaan.
Seorang marketing memiliki komunikasi yang baik dalam menghadapi targetnya, dia begitu manis dan tulus dalam berbicara sehingga orang yang mendengar sungguh terpesona, dan sungguh tertarik akan apa yang disampaikannya, sungguh ingin memiliki dan menuruti apa saja yang dia inginkan. Meski dalam konteks belum butuh sekalipun. Ini adalah salah satu sikap yang dimiliki oleh seorang marketing.
Seorang marketing yang tidak mempunyai kesadaran Pada Awalnya akan menunjukkan prestasi yang bagus untuk mendapatkan kepercayaan dari sang big bos..tapi lambat laun ini akan berubah. Tiba-tiba saja mereka merasa bahwa merekalah pemberi sumbangsih yang paling besar terhadap kemajuan perusahaan, merasa tidak puas dengan kompensasi yang ada , akhirnya diam-diam menjual barang atas nama perusahaan untuk kepentingan pribadi. Inilah mental yang meraup kekayaan dengan cara-cara kejam, memonopoli untuk kepentingan pribadi dengan mengorbankan orang lain. Mulai mempelajari perusahaan, mulai membaca peta konsumen, tujuannya suatu saat akan hengkang dari perusahaan karena ingin jadi bos, dengan mengambil lahan orang lain. Tapi ini tidak akan disampaikan dengan cara terbuka. Karena ketika hengkang alasannya sangat indah penuh pengharapan ingin maju, ingin berkembang, ingin lebih baik, tidak ingin selamanya jadi karyawan. Tidak ada yang salah dengan dengan pribadi ingin maju. Tapi orang yang tidak memiliki kesadaran tidak akan melakukannya dengan cara yang benar.
Seorang marketing yang tidak punya kesadaran pasti pengecut karena apa, karena ketika ada komplain dari konsumen tidak akan tanggap, karena ketika barang sudah terjual merasa urusan nya sudah selesai. Ketika keberatan dengan kebijakan perusahaan tidak akan berkata apa-apa bahkan untuk sekedar kata tidak setuju, Diam tanpa suara tapi beraksi diluar tanpa ada pengawasan, menusuk dari belakang atau bahkan menusuk ketika orang sedang bermimpi, karena kalau dari depan tidak akan punya keberanian karena apa?? Karena kalau dari depan akan ada perlawanan.
Seorang marketing mempunyai potensi yang sangat besar untuk melakukan pengkhianatan profesi karena biasanya profesi ini sulit dikontrol karena tidak ada bukti tertulis tentang apa saja yang dilakukannya, berbeda dengan profesi seorang accounting, dimana segala tindak-tanduknya selalu ada bukti tertulis.
Memang tak mudah merajut kesadaran bahwa cinta sekalipun memerlukan pengelolaan yang benar dan bertanggungjawab. Benar artinya sesuai norma agama dan hukum. Bertanggungjawab artinya bahwa cinta memiliki konsekuensi dan resiko yang harus diterima dan diambil dengan sepenuh hati. Maka ketika polisi membongkar sindikat praktek aborsi, yang terjadi sesungguhnya adalah cerita mengenaskan tentang hawa nafsu yang tak menyentuh pilar-pilar cinta. Tak ada norma apalagi kesadaran dalam agama.
Kesadaran adalah kemengertian. Tapi sering kali untuk menjadi mengerti sangat banyak hambatannya. Diri kita sendiri tak jarang dengan angkuh tak kunjung mau belajar untuk memupuk kesadaran. Ditambah dengan suasana carut marut, segalanya menjadi tampak kian runyam. Diperlukan orang yang punya jenak untuk terus menumbuhkan kesadarannya. Dimanapun lingkupnya. Dari sana, segala tindak tanduk keputusan, prilaku, pilihan peran, punya argumentasi yang kokoh dan bertanggungjawab.
Kesadaran adalah sebuah keniscayaan yang harus dimiliki seseorang pada saat dan dimana pun berada, saat berurusan dengan cinta seseorang harus punya kesadaran agar bisa bertanggungjawab sepenuh hati, saat menjadi seorang karyawan seseorang harus punya kesadaran agar tidak melakukan pengkhianatan profesi, saat menjadi seorang pimpinan seseorang harus punya kesadaran agar kekuasaan tidak dijadikan alat untuk menindas yang tampak lebih lemah.
Kehidupan kita memang rapuh dan bergelimang bencana, begitu banyak kita melukai lingkungan sekitar, tidak ada jiwa yang lapang, sehingga terbiasa dengan kedzoliman, terkadang musibah yang menimpa saudara kita, adalah buah kebejatan yang pernah kita lakukan. Maka setiap musibah yang terjadi pada saudara kita kita ikut andil didalamnya. kehidupan yang terpuruk karena kian langkanya orang-orang yang punya kesadaran.
Kesadaran adalah pilar kehidupan. Tetapi kita tak pernah sadar bahwa terkadang kita sendiri yang tidak mau belajar agar mendapatkan pilar-pilar tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar